Viralnya Video Mahasiswa UNSRI: Minim Literasi Digital dan Takut Mengutarakan Pendapat

✍️ Admin | 📅 2025-09-24 00:00:00 | 📂 berita

Video mahasiswa baru UNSRI viral di media sosial

Pada 20 September 2025, sebuah video mahasiswa baru Universitas Sriwijaya (UNSRI) jurusan Teknologi Pertanian menjadi viral di media sosial. Dalam video tersebut, mahasiswa baru diminta untuk saling mencium kening dalam kegiatan penyambutan. Awalnya, kegiatan ini hanyalah bersih-bersih lingkungan jurusan dan forum angkatan, namun berubah menjadi aksi yang tidak pantas.

Menjelang akhir acara, seorang senior bersama alumni menginisiasi permainan hiburan yang berujung pada permintaan aksi tersebut. Ketua Himpunan Mahasiswa Teknologi Pertanian (HIMATETA), Ivandi Cesario Amar, bersama para senior langsung menyampaikan permintaan maaf terbuka. Mereka mengakui kelalaian dalam merancang kegiatan dan siap menerima sanksi dari pihak kampus. Namun, insiden ini tetap mencoreng nama baik jurusan dan UNSRI secara keseluruhan.

Respon Pihak Kampus

Pihak rektorat UNSRI merespons dengan tegas. HIMATETA dibekukan selama satu tahun penuh karena dugaan pelanggaran berat. Sekretaris UNSRI, Aidil Fitri, menegaskan bahwa kampus tidak akan mentolerir perundungan atau tindakan yang mencederai nilai pendidikan. Langkah ini diambil sebagai bentuk perlindungan mahasiswa dan menjaga reputasi kampus.

Mengapa Mahasiswa Tidak Menolak?

Salah satu pertanyaan yang muncul dari insiden ini adalah: kenapa mahasiswa baru mau melakukan aksi memalukan tersebut? Banyak pihak berspekulasi bahwa ada beberapa faktor psikologis dan sosial yang memengaruhi keputusan mereka. Pertama, tekanan sosial dari senior dan alumni bisa membuat mahasiswa merasa tidak ada pilihan selain patuh. Kedua, adanya rasa malu untuk menolak atau berbeda pendapat di depan teman-teman bisa membuat mereka pasif. Ketiga, kemungkinan ada motivasi “ingin ikut seru-seruan” tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.

Fenomena ini menyoroti pentingnya literasi digital dan kesadaran kritis generasi muda. Saat ini, banyak Gen-Z lebih sering mengonsumsi konten hiburan di media sosial yang tidak pantas atau sensasional. Mereka terbiasa melihat hal-hal ekstrem sebagai hiburan, sehingga batas antara yang wajar dan tidak wajar menjadi kabur. Minimnya literasi digital membuat mereka kesulitan menilai risiko atau dampak sosial dari tindakan mereka.

Faktor Literasi Digital

Literasi digital bukan hanya soal kemampuan menggunakan gadget atau media sosial, tapi juga kemampuan menilai informasi, memahami konsekuensi, dan mengekspresikan pendapat secara sehat. Dalam kasus mahasiswa UNSRI, kurangnya pemahaman ini membuat mereka cenderung mengikuti instruksi senior tanpa refleksi kritis. Mereka mungkin melihat aksi itu sebagai “main-main” atau sekadar hiburan, tanpa menyadari potensi kerugian reputasi diri dan institusi.

Selain itu, media sosial memicu budaya kompetisi dan viralitas. Banyak orang berlomba untuk menjadi pusat perhatian, dan ini bisa memengaruhi mahasiswa baru untuk ikut-ikutan demi menjadi “bagian dari keseruan”. Tanpa literasi digital yang memadai, mereka tidak bisa menilai apakah tindakan itu pantas atau berisiko tinggi.

Takut Mengutarakan Pendapat

Faktor kedua adalah ketakutan untuk mengutarakan pendapat. Mahasiswa baru mungkin merasa posisinya lemah dibanding senior atau panitia. Mereka takut dicap tidak kooperatif, diasingkan, atau bahkan mendapat sanksi sosial dari teman-teman. Tekanan kelompok seperti ini sering membuat individu menekan suara hati dan ikut melakukan hal yang sebenarnya tidak nyaman bagi mereka.

Dalam konteks ini, kemampuan komunikasi dan keberanian untuk menolak hal yang salah sangat penting. Sayangnya, budaya takut berbicara atau menyuarakan keberatan masih umum terjadi di beberapa lingkungan pendidikan. Padahal, lingkungan yang mendukung diskusi terbuka bisa mencegah kejadian serupa di masa depan.

Pembelajaran dari Insiden

Insiden mahasiswa UNSRI ini menjadi pengingat bagi semua pihak. Pertama, penting bagi kampus dan organisasi mahasiswa untuk merancang kegiatan dengan batasan jelas dan etika yang dijunjung tinggi. Kedua, literasi digital harus ditingkatkan agar mahasiswa bisa memilah konten hiburan dan memahami konsekuensi tindakan mereka di dunia nyata. Ketiga, mahasiswa perlu didorong untuk mengembangkan keberanian menyuarakan pendapat dan menolak hal yang tidak pantas, tanpa takut mendapat stigma negatif.

Selain itu, insiden ini bisa menjadi bahan refleksi bagi generasi muda tentang tanggung jawab sosial dan etika digital. Media sosial bukan hanya ruang hiburan, tapi juga tempat di mana tindakan bisa cepat viral dan berdampak luas. Dengan memahami risiko dan mengasah kemampuan kritis, mahasiswa bisa menjadi pengguna media yang bijak dan bertanggung jawab.

Kesimpulan

Video mahasiswa UNSRI menjadi viral bukan hanya karena aksi yang kontroversial, tapi juga karena fenomena sosial yang mendasarinya: minim literasi digital dan ketakutan mengutarakan pendapat. Insiden ini menunjukkan perlunya pendidikan yang lebih baik terkait etika, komunikasi, dan penggunaan media sosial. Dengan literasi digital yang kuat dan keberanian untuk menyuarakan pendapat, generasi muda bisa membuat keputusan yang lebih bijak dan menghindari tindakan memalukan atau merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Pada akhirnya, kejadian ini bukan sekadar hiburan viral, tapi juga pelajaran penting tentang bagaimana kita menghadapi tekanan sosial, teknologi, dan budaya media sosial di era modern. Literasi, etika, dan keberanian berpendapat menjadi kunci agar mahasiswa bisa berkembang secara sehat dan bertanggung jawab.