Verrell Bramasta Soroti Inferior Complex dan Crab Mentality Pemuda Indonesia
Anggota Komisi X DPR RI, Verrell Bramasta, menyoroti dua kebiasaan yang berpotensi menghambat potensi besar pemuda Indonesia, yaitu inferior complex (rasa rendah diri) dan crab mentality (iri, tidak ingin melihat orang lain sukses). Hal ini ia sampaikan dalam rapat bersama Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir, Senin (29/9/2025).
Menurut analisis penulis, sebenarnya pemerintah sudah mengetahui potensi besar yang dimiliki anak-anak muda Indonesia. Namun sayangnya, fasilitas untuk mendukung talenta mereka masih sangat minim. Banyak anak muda berbakat yang harus berjuang sendiri tanpa dukungan. Apresiasi dari pemerintah pun biasanya baru muncul ketika mereka sudah berprestasi dan terekspos di media. Jika tidak demikian, bakat tersebut sering kali diabaikan.
Selain itu, masyarakat juga ikut andil dalam memperburuk situasi ini. Inferior complex membuat banyak anak muda tidak percaya diri dengan kemampuannya. Crab mentality pun semakin memperparah keadaan, karena masih banyak orang yang iri dan tidak ingin melihat sesama berkembang. Di era digital, fenomena flexing dan budaya menghakimi di media sosial juga memperbesar masalah ini, sehingga anak muda semakin rentan kehilangan motivasi.
Hal ini terlihat jelas di dunia olahraga. Misalnya, sepak bola mendapatkan sorotan dan hadiah mewah, sementara cabang olahraga lain sering dipandang sebelah mata. Verrell menyinggung contoh jam tangan mewah yang diberikan kepada tim sepak bola, namun di sisi lain pembalap dunia seperti Valentino Rossi yang pernah bekerja sama dengan Pertamina tidak mendapat perhatian yang sama, berbeda dengan Marc Márquez yang justru disorot karena sudah meraih gelar juara dunia. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: mengapa pemerintah tidak memberikan dukungan yang merata?
Namun, masalah ini bukan hanya pada pemerintah. Masyarakat juga ikut berperan dalam menciptakan hambatan. Rendahnya rasa percaya diri dan sikap iri hati membuat banyak anak muda kehilangan semangat. Mentalitas ini terbentuk dari lingkungan: ada yang ketika dihujat semakin berjuang, tetapi banyak juga yang menyerah. Tanpa adanya dukungan sosial, bakat yang dimiliki perlahan memudar, meski sebenarnya mampu bersaing di tingkat global.
Di era digital, tantangan semakin besar. Media sosial sering kali memperparah keadaan. Fenomena flexing kekayaan menjadi contoh nyata. Sebagian orang mungkin termotivasi, tetapi lebih banyak yang justru iri dan terjebak dalam perasaan dengki. Padahal, flexing adalah hak pribadi seseorang, dan masyarakat seharusnya mampu mengendalikan diri untuk memilah apakah itu bisa dijadikan motivasi atau sekadar hiburan. Sayangnya, yang terjadi adalah sebaliknya: banyak orang semakin terjebak dalam perasaan tidak puas.
Kebiasaan ini tidak hanya terlihat di dunia maya, tetapi juga di kehidupan nyata. Sering kali, orang-orang yang berprestasi pun tetap menjadi sasaran iri hati. Bahkan, mereka yang sedang berproses menuju kesuksesan lebih sering dikucilkan daripada didukung. Kondisi ini jelas merusak semangat generasi muda. Negara menjadi tertinggal bukan hanya karena pemerintah tidak amanah, tetapi juga karena masyarakat yang masih memelihara mentalitas saling menjatuhkan.
Padahal, jika melihat ke desa-desa, banyak masyarakat yang justru berjuang dengan kemandirian, menciptakan lapangan pekerjaan, dan mengembangkan bakat mereka. Sayangnya, perjuangan ini sering tidak mendapat perhatian serius dari pemerintah. Alih-alih memberikan dukungan, kebijakan yang ada justru semakin memberatkan, misalnya melalui pajak atau regulasi yang tidak berpihak kepada masyarakat kecil. Akibatnya, muncul peribahasa klasik: yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.
Kritik Terhadap Pemerintah dan Masyarakat
Kondisi ini menunjukkan bahwa permasalahan bangsa tidak bisa hanya ditimpakan pada pemerintah. Masyarakat juga harus introspeksi. Rendahnya kepercayaan diri, sifat iri, dan kurangnya dukungan terhadap sesama justru memperparah masalah. Pemerintah yang lalai dan masyarakat yang saling merusak menjadi kombinasi berbahaya yang menghambat kemajuan bangsa.
Untuk itu, membangun sikap suportif sangat penting. Pemuda Indonesia perlu menanamkan kembali nilai-nilai ketimuran, seperti gotong royong, tenggang rasa, dan saling menghargai. Nilai ini harus dihidupkan kembali agar inferior complex dan crab mentality bisa dilawan. Jika tidak, maka potensi besar yang dimiliki generasi muda hanya akan menjadi potensi yang tidak pernah terealisasi.
Kesimpulan
Kisah yang disoroti Verrell Bramasta menjadi cermin bagi kita semua. Pemerintah perlu lebih serius dalam memfasilitasi bakat anak muda, tidak hanya menunggu mereka sukses lebih dulu. Di sisi lain, masyarakat juga harus berhenti menumbuhkan budaya iri dan rendah diri. Perubahan besar tidak hanya datang dari atas, tetapi juga dari bawah. Ketika pemuda Indonesia berani percaya diri, saling mendukung, dan melawan mentalitas negatif, maka jalan menuju bangsa yang lebih maju akan terbuka lebar.