Fenomena Orang Dalam di Dunia Kerja Indonesia: Tantangan Soft Skills, Mismatch Kompetensi, dan Dampaknya bagi Ekonomi
Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat setiap tahun ada sekitar 10,7 juta orang di Indonesia yang bersaing mencari pekerjaan. Angka besar ini tidak hanya berasal dari pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), tetapi juga dari mereka yang mengundurkan diri secara sukarela maupun lulusan baru yang masuk ke pasar kerja.
“Setiap tahun ada sekitar 10 juta orang yang harus diakomodasi dalam lowongan kerja baru,” jelas Kepala Pusat Pasar Kerja Kemnaker, Surya Lukita Warman, dalam sebuah konferensi di Jakarta, Jumat (26/9/2025).
Tantangan Mismatch Kompetensi dan Kualitas Tenaga Kerja
Surya menambahkan bahwa salah satu persoalan utama adalah terjadinya mismatch kompetensi. Banyak pencari kerja memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai, tetapi tidak dibarengi dengan keterampilan pendukung atau soft skills yang memadai. Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa sebagian besar tenaga kerja, terutama lulusan SMP ke bawah, masih memiliki keterampilan yang rendah.
Di sisi lain, perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan (AI), Industri 4.0, hingga transisi menuju ekonomi hijau, menuntut tenaga kerja dengan kemampuan baru yang lebih adaptif. Jika mismatch kompetensi ini tidak segera ditangani, maka akan semakin sulit menciptakan ekosistem kerja yang sehat dan berdaya saing.
Fenomena “Orang Dalam” di Dunia Kerja
Saya pribadi sangat setuju bahwa masalah besar dunia kerja di Indonesia bukan hanya soal pendidikan formal, tetapi juga budaya rekrutmen yang kurang sehat. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sekitar 80% pekerjaan diperoleh melalui orang dalam. Artinya, kedekatan dengan kerabat, teman, atau bahkan hubungan politik lebih berpengaruh dibandingkan kompetensi nyata yang dimiliki oleh pencari kerja.
Fenomena ini membuat banyak orang yang sebenarnya memiliki skill mumpuni justru tersingkir, sementara yang diprioritaskan adalah mereka yang punya koneksi. Tidak jarang, pejabat atau pegawai yang memberi pernyataan tentang masalah ketenagakerjaan pun bisa jadi termasuk bagian dari sistem ini, karena tidak sedikit yang menduduki jabatan bukan karena keterampilan, tetapi karena faktor kedekatan.
Dampak Negatif Sistem "Orang Dalam"
Pertanyaan besar yang harus dijawab adalah: apa dampaknya bagi masyarakat luas dan perekonomian Indonesia jika 80% pekerjaan diperoleh dengan sistem orang dalam?
Pertama, kualitas tenaga kerja menjadi tidak merata. Banyak perusahaan kesulitan menemukan pekerja yang benar-benar siap, karena posisi strategis sudah diisi oleh mereka yang masuk lewat jalur koneksi. Hal ini berdampak pada lambatnya perkembangan perusahaan.
Kedua, fenomena ini membuka ruang besar bagi masuknya tenaga kerja asing. Banyak perusahaan lebih memilih pekerja asing karena dianggap lebih profesional, disiplin, dan memiliki soft skills yang lebih baik. Alhasil, pekerja lokal semakin tersisih.
Ketiga, sistem ini berimbas pada daya saing produk lokal. Meski kualitas produk dalam negeri seringkali tidak kalah dengan produk asing, tetap saja kalah di pasar. Mengapa? Karena perusahaan yang merekrut berdasarkan koneksi sering kali tidak mampu berinovasi. Akibatnya, produk asing yang lebih adaptif mendominasi pasar Indonesia.
Keterkaitan Soft Skills dan Masa Depan Ekonomi
Jika sistem rekrutmen kerja masih lebih menekankan koneksi ketimbang keterampilan, sulit bagi ekonomi Indonesia untuk tumbuh. Perusahaan akan terus menghadapi masalah mencari tenaga kerja yang benar-benar mumpuni.
Padahal, pendidikan formal hanyalah salah satu modal. Semua orang bisa memiliki gelar akademik, tetapi tanpa soft skills seperti kemampuan komunikasi, kerja sama tim, kepemimpinan, dan kreativitas, sulit untuk bertahan di era global. Mirisnya, hanya sekitar 7% tenaga kerja di Indonesia yang mendapatkan pekerjaan sesuai dengan jurusan atau bidang pendidikan yang mereka tempuh. Ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian serius antara dunia pendidikan dengan kebutuhan industri.
Mengapa Soft Skills Begitu Penting?
Soft skills sering dianggap sepele, padahal inilah faktor utama yang membuat seseorang unggul. Misalnya, seorang karyawan dengan kemampuan komunikasi yang baik akan lebih mudah bekerja sama dalam tim. Seorang pemimpin dengan empati tinggi bisa menggerakkan bawahannya lebih efektif dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan ijazah.
Di era persaingan global saat ini, soft skills justru menjadi pembeda antara pekerja lokal dengan pekerja asing. Jika tenaga kerja lokal tidak segera meningkatkan soft skills mereka, maka ketergantungan terhadap pekerja asing akan terus berlanjut.
Solusi untuk Meningkatkan Daya Saing
Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk memperbaiki situasi ini:
- Reformasi sistem rekrutmen agar lebih transparan dan berbasis kompetensi, bukan koneksi.
- Peningkatan soft skills melalui pelatihan, kursus, dan program pengembangan diri sejak dini.
- Kemitraan antara pemerintah, industri, dan pendidikan untuk mengurangi mismatch kompetensi.
- Budaya meritokrasi harus ditanamkan, agar pekerja yang benar-benar mumpuni mendapatkan tempat yang layak.
Kesimpulan
Indonesia menghadapi tantangan besar dalam dunia kerja, mulai dari mismatch kompetensi hingga budaya orang dalam yang masih mengakar. Jika kondisi ini tidak segera dibenahi, maka sulit bagi tenaga kerja lokal untuk bersaing dengan pekerja asing, dan ekonomi nasional akan terus tertinggal.
Kunci utama bukan hanya gelar pendidikan, tetapi bagaimana setiap individu mampu mengasah soft skills, membangun inovasi, serta menciptakan nilai tambah di era persaingan global. Tanpa perubahan sistemik, sulit berharap adanya kemajuan signifikan dalam dunia ketenagakerjaan Indonesia.