Kelas Menengah Tercekik Utang

✍️ Admin | 📅 2025-10-07 12:57:00 | 📂 Ekonomi

Kelas menengah Indonesia tercekik utang akibat tekanan ekonomi dan gaya hidup konsumtif

Kelas Menengah Tercekik Utang: Gaji Habis untuk Cicilan dan Realita Ekonomi yang Makin Berat

Kelas menengah di Indonesia kini menghadapi tekanan ekonomi yang kian berat. Ekonom INDEF, Tauhid Ahmad, menjelaskan bahwa fenomena ini terlihat dari meningkatnya jumlah pinjaman online (pinjol) dan menurunnya penyaluran kredit bagi pelaku UMKM. Banyak masyarakat kelas menengah kini berutang bukan untuk investasi atau mengembangkan usaha, melainkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran perilaku ekonomi yang cukup mengkhawatirkan.

Kondisi ini membuat kelas menengah berada dalam posisi yang serba sulit — penghasilan mereka tergolong pas-pasan, namun tidak memenuhi syarat untuk menerima bantuan sosial dari pemerintah. Akibatnya, banyak yang terpaksa menguras tabungan atau mengambil pinjaman untuk sekadar memenuhi kebutuhan dasar. Gaji yang stagnan akhirnya habis untuk membayar cicilan dan biaya hidup bulanan, menyulitkan mereka untuk menabung atau meningkatkan kesejahteraan.

Data dari OJK menunjukkan bahwa pertumbuhan pinjaman dan aktivitas pegadaian meningkat signifikan sejak masa pandemi COVID-19. Masyarakat yang sebelumnya mampu menjaga stabilitas finansial kini mulai bergantung pada pinjaman cepat. Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya salah? Apakah pemerintah yang gagal mengayomi masyarakat, atau masyarakat kelas menengah sendiri yang kurang bijak dalam mengatur keuangan? Jawabannya mungkin berada di tengah-tengah — kombinasi dari kebijakan ekonomi yang kurang efektif dan gaya hidup konsumtif yang terus meningkat.

Faktor yang Mendorong Kelas Menengah Terjerat Utang

Ada sejumlah faktor yang menyebabkan masyarakat menengah ke bawah terjebak dalam utang, terutama dari pinjaman online dan pegadaian. Berikut beberapa alasan utama yang menjadi pemicu:

Selain faktor tersebut, kemudahan akses ke pinjaman online juga turut memperparah situasi. Hanya dengan beberapa klik di ponsel, seseorang dapat mengajukan pinjaman tanpa jaminan dengan proses yang cepat. Sayangnya, kemudahan ini seringkali tidak diimbangi dengan kesadaran terhadap risiko bunga tinggi dan denda keterlambatan yang mencekik.

Dampak Sosial dan Ekonomi yang Muncul

Fenomena meningkatnya utang di kalangan kelas menengah tidak hanya berdampak pada kondisi finansial pribadi, tetapi juga berpengaruh pada stabilitas ekonomi nasional. Ketika sebagian besar masyarakat menggunakan pinjaman untuk konsumsi, bukan untuk produktivitas, daya dorong ekonomi menjadi lemah. Kelas menengah yang seharusnya menjadi motor penggerak ekonomi justru terjebak dalam pola pengeluaran yang tidak berkelanjutan.

Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menambahkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, industri pinjaman online dan praktik pegadaian meningkat pesat. Berdasarkan data resmi OJK, total outstanding pinjol dari tahun 2020 hingga 2025 tumbuh hingga 651%, sementara masyarakat yang menggadaikan barangnya meningkat sebesar 66% dalam lima tahun terakhir. Ini menunjukkan betapa dalamnya tekanan ekonomi yang dialami masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah.

Pertumbuhan tabungan masyarakat juga menurun signifikan. Proporsi pengeluaran untuk makanan meningkat tajam, menandakan bahwa kemampuan membeli kebutuhan non-pangan semakin menurun. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menurunkan kualitas hidup masyarakat dan memperlebar kesenjangan ekonomi antar kelas sosial.

Siklus Utang yang Sulit Diputus

Masalah utama dari fenomena ini adalah munculnya siklus utang yang sulit diputus. Banyak orang meminjam uang untuk membayar utang lain, sehingga jumlah utang bukannya berkurang malah semakin menumpuk. Ketika satu pinjaman lunas, mereka kembali meminjam dari tempat lain untuk menutup kebutuhan berikutnya. Siklus ini menciptakan ketergantungan jangka panjang terhadap pinjaman konsumtif.

Kondisi tersebut semakin diperburuk dengan minimnya pengawasan terhadap praktik pinjaman online ilegal. Banyak platform pinjol yang beroperasi tanpa izin, menawarkan bunga tinggi dan ancaman penagihan tidak manusiawi. Korban pinjol ilegal terus bertambah karena lemahnya literasi keuangan dan kurangnya penegakan hukum yang tegas.

Solusi dan Langkah Antisipasi

Untuk mengatasi krisis ini, perlu ada sinergi antara kebijakan pemerintah, peran lembaga keuangan, dan kesadaran masyarakat. Pemerintah perlu memperkuat program perlindungan finansial bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah melalui edukasi keuangan, subsidi bunga pinjaman produktif, dan pengawasan ketat terhadap pinjol ilegal.

Di sisi lain, masyarakat juga harus belajar mengelola keuangan pribadi dengan lebih bijak. Pengeluaran konsumtif sebaiknya dikurangi dan diganti dengan investasi kecil yang produktif. Literasi keuangan harus menjadi bagian penting dari pendidikan formal agar generasi muda memahami pentingnya menabung dan menghindari jeratan utang sejak dini.

Kesimpulan

Kelas menengah Indonesia kini sedang menghadapi tantangan besar. Tekanan ekonomi, kebutuhan hidup yang terus meningkat, serta gaya hidup konsumtif membuat mereka semakin rentan terhadap jebakan utang. Tanpa kesadaran finansial dan kebijakan ekonomi yang berpihak, fenomena ini bisa berlanjut menjadi krisis sosial jangka panjang. Sudah saatnya masyarakat menengah memperbaiki cara pandang terhadap uang dan kembali ke prinsip sederhana: hidup sesuai kemampuan, bukan berdasarkan gengsi.