Erick Thohir dan Tantangan Besar Menpora: Pemuda, Olahraga, dan Pemain Lokal
Nomor satu yang pasti saya mendapatkan penugasan dari Bapak Presiden, tentu saya sebagai profesional dan pembantu presiden saya tegak lurus, ujar Erick Thohir.
Ia juga menegaskan bahwa seringkali orang lupa membedakan antara pemuda dan olahraga. Padahal, Menteri Pemuda dan Olahraga mencakup dua aspek penting. Erick menyebutkan ada sekitar 131 juta pemuda Indonesia yang harus disiapkan untuk menjadi generasi unggul, berdaya saing global, serta tetap mencintai Tanah Air.
โUntuk olahraga, tentu nomor satu olahraga harus menjadi alat pemersatu bangsa. Olahraga adalah duta bangsa di dunia, artinya kita harus menaikkan marwah dan martabat kita sebagai bangsa,โ jelas Erick Thohir.
Tantangan Besar: Pemain Muda Lokal
Visi Erick Thohir memang baik, namun ada pekerjaan rumah besar yang masih perlu diselesaikan. Selama menjabat sebagai Ketua Umum PSSI, muncul pertanyaan dari masyarakat: apakah benar seluruh sepak bola Indonesia sudah benar-benar bersatu?
Banyak kritik yang menyoroti keadilan bagi pemain muda lokal. Menit bermain di Liga 1 untuk pemain U-23 masih terbatas meskipun sudah ada aturan wajib. Sayangnya, hal itu belum cukup karena sebagian besar klub lebih memilih mengandalkan pemain asing demi bersaing di level liga. Kondisi ini membuat pemain muda lokal semakin terpinggirkan.
Bahkan, sejumlah pelatih dan pengamat sepak bola menyarankan adanya turnamen khusus untuk pemain muda U-23 agar mereka bisa mengasah kemampuan tanpa kalah bersaing dengan pemain asing. Namun, realitasnya justru berbeda: fokus lebih banyak tertuju pada pemain diaspora dan target jangka pendek seperti Piala Dunia.
Aspirasi dan Harapan Masyarakat
Kritik ini bukan untuk menjatuhkan, melainkan bentuk aspirasi masyarakat agar Erick Thohir tidak melupakan pengembangan pemain muda lokal. Jurnalis sepak bola Indonesia, Bung J, bahkan menegaskan bahwa selama 10 tahun terakhir, pembinaan pemain muda tidak difasilitasi dengan baik oleh pemerintah.
Kami mendukung penuh Erick Thohir sebagai Menpora agar benar-benar amanah dan konsisten dengan ucapannya: menjadikan olahraga sebagai pemersatu bangsa. Namun, pekerjaan rumah mengenai pembinaan pemain muda lokal harus segera dituntaskan. Tanpa itu, sulit rasanya sepak bola Indonesia benar-benar maju.
Kesimpulan
Visi Erick Thohir untuk memajukan pemuda dan olahraga patut diapresiasi. Namun, peran Menpora bukan hanya menjaga marwah olahraga di dunia internasional, melainkan juga membangun fondasi kuat dari dalam negeri. Pembinaan pemain muda lokal Indonesia harus menjadi prioritas agar olahraga benar-benar menjadi pemersatu bangsa.
Semoga Erick Thohir mampu menjawab tantangan besar ini dengan langkah nyata, sehingga cita-cita membawa olahraga Indonesia berjaya di tingkat global tidak hanya sekadar wacana, tetapi benar-benar terwujud.