Fenomena Job Hugging: Bertahan di Pekerjaan yang Tidak Membahagiakan demi Rasa Aman

✍️ Admin | 📅 2025-09-23 00:00:00 | 📂 lifestyle

Fenomena job hugging di dunia kerja

Pernah nggak sih kamu merasa tidak bahagia dengan pekerjaanmu, tapi tetap bertahan karena takut tidak bisa mendapatkan yang lebih baik? 🤔 Kalau iya, kemungkinan besar kamu sedang mengalami fenomena yang disebut "job hugging".

Job hugging adalah kondisi di mana seseorang "memeluk" pekerjaannya yang sebenarnya tidak ideal, hanya demi rasa aman. Banyak orang bertahan karena takut menghadapi ketidakstabilan ekonomi, sulitnya mencari pekerjaan baru, atau khawatir kehilangan gaji dan benefit yang sudah mereka dapatkan saat ini.

Masalahnya, meskipun terasa aman, kondisi ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental dan perkembangan karier. Seseorang bisa merasa stres, burnout, bahkan terjebak dalam karier yang stagnan. Lalu, apa sebenarnya penyebab job hugging, dan bagaimana cara kita menyikapinya?

Ketidakpuasan dan Rasa Aman Semu

Hidup memang tidak selalu sesuai dengan yang kita inginkan. Kadang, bukannya mendapatkan pekerjaan impian, justru kita harus bertahan di tempat yang jauh dari harapan. Ada yang gajinya tidak sesuai dengan biaya hidup, ada yang jam kerjanya terlalu panjang, atau ada pula yang merasa lingkungannya toxic. Namun, karena alasan bertahan hidup, banyak orang memilih untuk diam dan tetap bekerja di sana.

Banyak orang mencoba mengalir saja dalam hidup, tanpa terlalu ambisius. Memang, kalau kita bisa menjalani hari dengan tenang, mensyukuri yang ada, dan tidak terlalu membandingkan diri, hasilnya bisa menenangkan pikiran. Tapi tentu saja, praktiknya tidak semudah teori. Apalagi di era modern, di mana pekerjaan sering menuntut 5–6 hari kerja per minggu dengan gaji yang belum tentu mencukupi kebutuhan hidup.

Kondisi inilah yang membuat orang "memeluk" pekerjaannya, walaupun sebenarnya tidak bahagia. Mereka bertahan karena merasa tidak ada pilihan lain yang lebih baik. Padahal, tekanan semacam ini bisa membuat pikiran terus terhimpit dan kesehatan mental terganggu.

Faktor Media Sosial dan Budaya Membandingkan

Salah satu faktor besar yang memengaruhi fenomena job hugging adalah media sosial. Banyak konten di media sosial yang menunjukkan gaya hidup serba mewah, pekerjaan keren, atau pasangan romantis yang tampak sempurna. Fenomena ini sering disebut flexing. Ketika terlalu sering melihat konten seperti itu, kita jadi sibuk membandingkan diri dengan orang lain.

Alhasil, kita sering lupa untuk bersyukur atas apa yang kita miliki. Kita merasa tertinggal, kurang berprestasi, atau bahkan gagal. Perasaan inilah yang membuat stres semakin menumpuk. Bayangkan, sedang sibuk bekerja keras, tapi pikiran terus diganggu oleh perbandingan yang tidak sehat dengan orang lain di dunia maya. Pada akhirnya, media sosial justru jadi pemicu munculnya ambisi berlebihan, rasa iri, hingga kelelahan mental.

Padahal, konten-konten di media sosial tidak bisa kita kontrol. Orang lain bebas memamerkan apa pun, mulai dari mobil baru, gaji besar, liburan mewah, hingga kesuksesan karier. Yang bisa kita kontrol hanyalah pikiran dan respon kita. Jika tidak hati-hati, kita bisa makin terjebak dalam lingkaran stres dan ketidakpuasan terhadap pekerjaan.

Bagaimana Menyikapi Job Hugging?

Fenomena ini memang sulit dihindari, tapi bukan berarti tidak ada jalan keluar. Pertama, cobalah untuk lebih fokus pada diri sendiri, bukan pada orang lain. Jangan terlalu sibuk membandingkan pencapaian dengan yang ada di media sosial. Ingatlah bahwa apa yang ditampilkan orang lain belum tentu sepenuhnya benar, banyak yang hanya sekadar pencitraan.

Kedua, nikmati proses harianmu. Setiap pekerjaan, meski terasa berat, pasti punya sisi positif. Bisa jadi ada pengalaman, skill baru, atau jaringan yang bermanfaat untuk masa depanmu. Dengan melihat sisi baik dari pekerjaan, meski kecil, kamu bisa menemukan makna yang membuat bertahan terasa lebih ringan.

Ketiga, seimbangkan ambisi dengan kapasitas diri. Tidak ada salahnya punya impian besar, tapi jangan sampai ambisi itu justru menjerumuskan ke dalam stres berkepanjangan. Jika ingin mencari pekerjaan baru, persiapkan diri secara matang. Upgrade skill, perluas jaringan, dan jangan terburu-buru. Dengan begitu, ketika ada kesempatan yang lebih baik, kamu sudah siap melangkah.

Keempat, latih rasa syukur. Lihatlah ke bawah, bukan hanya ke atas. Dengan menyadari bahwa banyak orang lain yang mungkin berada dalam kondisi lebih sulit, kamu bisa lebih menghargai apa yang sudah dimiliki. Rasa syukur ini bisa menjadi peredam stres yang sangat efektif.

Menjaga Kewarasan di Tengah Tekanan

Hidup di era sekarang memang penuh tekanan. Harga kebutuhan meningkat, pekerjaan menuntut banyak, dan media sosial terus memengaruhi pikiran kita. Tidak heran kalau banyak orang merasa kelelahan mental. Namun, kuncinya adalah menjaga kewarasan. Jangan biarkan pekerjaan atau media sosial sepenuhnya menguasai pikiranmu.

Telanlah kepahitan hidup, tapi jadikan itu bermakna. Setiap kesulitan yang kita hadapi bisa menjadi pelajaran berharga, bahkan inspirasi untuk orang lain. Jika bisa memaknai pengalaman dengan cara yang positif, stres pun bisa diubah menjadi energi untuk bertumbuh.

Pada akhirnya, job hugging adalah fenomena yang banyak dialami orang, bukan hanya kamu seorang. Ada rasa takut, tekanan ekonomi, hingga pengaruh media sosial yang memperparah kondisi ini. Namun, dengan mengelola pikiran, bersyukur, dan tetap fokus pada tujuan jangka panjang, kita bisa bertahan dengan lebih sehat. Ingat, yang terpenting bukan hanya bertahan hidup, tapi juga bagaimana kita tetap waras dan menemukan makna di dalam perjalanan itu.